Kenapa Berat Kain Berkurang Setelah Celup / Dyeing?
- Intan Jaya Tekstil

- 14 Jul 2024
- 3 menit membaca
Diperbarui: 11 Mar
Kalau kalian menimbang ulang kain yang dibeli di toko, berat nya tidak sama dengan yang di label. Loh kok bisa begitu? Yuk kita jelasin...

Memahami Perbedaan Berat Bruto dan Netto pada Kain Katun
Dalam industri tekstil, khususnya pada perdagangan kain kaos katun, sering muncul dua istilah penting:
Berat Bruto
Berat Netto
Bagi pelaku usaha konveksi dan garment, memahami kedua istilah ini sangat penting karena berkaitan langsung dengan:
perhitungan kebutuhan kain
estimasi biaya produksi
transparansi transaksi dengan supplier
Banyak pembeli baru yang bingung ketika menemukan berat kain setelah proses dyeing ternyata lebih ringan dari berat awalnya. Padahal hal ini merupakan proses yang normal dalam industri tekstil.
Mari kita bahas secara sederhana.
Apa Itu Berat Bruto pada Kain?
Berat bruto adalah berat kain sebelum melalui proses pencelupan warna (dyeing).
Pada tahap ini kain masih berupa kain greige, yaitu kain mentah yang baru selesai dirajut dari benang.
Karakteristik kain dalam kondisi bruto:
belum dicuci
belum melalui proses bleaching
belum dicelup warna
masih mengandung minyak rajut
masih terdapat kotoran alami dari serat kapas
Karena masih mengandung berbagai residu tersebut, berat kain pada kondisi bruto biasanya lebih berat dibandingkan setelah proses finishing.
Apa Itu Berat Netto?
Berat netto adalah berat kain setelah seluruh proses dyeing dan finishing selesai.
Sebelum kain siap digunakan untuk produksi kaos, kain biasanya melalui beberapa tahapan proses:
Scouring
Proses pencucian untuk menghilangkan minyak rajut dan kotoran dari serat kapas.
Bleaching
Proses pemutihan untuk menghilangkan warna alami kapas.Tahap ini biasanya lebih kuat pada kain warna putih.
Dyeing
Proses pencelupan warna sesuai warna yang diinginkan.
Finishing
Proses penyempurnaan agar kain stabil dan siap diproduksi menjadi pakaian.
Selama proses-proses ini, sebagian komponen alami kain akan hilang sehingga berat kain biasanya menyusut.
Mengapa Berat Kain Bisa Menyusut?
Ada beberapa penyebab utama penyusutan berat kain setelah proses dyeing:
Hilangnya minyak rajut
Minyak yang digunakan saat proses rajut akan hilang saat pencucian.
Hilangnya wax alami kapas
Serat kapas secara alami memiliki lapisan wax yang ikut hilang saat proses scouring.
Proses bleaching
Untuk warna putih, proses bleaching mengangkat lebih banyak material alami dari kain.
Pencucian berulang
Beberapa tahap produksi melibatkan pencucian berkali-kali.
Akibatnya, berat kain setelah finishing biasanya lebih ringan dibandingkan saat masih greige.
Berapa Susut Berat Kain Katun yang Normal?
Dalam praktik industri tekstil, kain katun biasanya memiliki toleransi susut berat sekitar 8%.
Untuk warna putih, penyusutan bisa mencapai sekitar 10% karena proses bleaching yang lebih intens dan tidak ada penambahan zat warna lainnya.
Perlu dipahami bahwa angka ini bukan standar regulasi resmi, melainkan patokan yang terbentuk dari histori produksi yang konsisten di industri tekstil.
Contoh Perhitungan Susut Berat Kain
Misalnya terdapat kain dengan kondisi berikut:
Tahap | Berat |
Berat kain sebelum dyeing (bruto) | 25 kg |
Berat kain setelah dyeing (netto) | 24 kg |
Perhitungan susut:
((25−24)/25)×100%=4%
Artinya kain mengalami susut berat sebesar 4%.
Angka ini masih sangat baik karena berada di bawah toleransi industri yaitu sekitar 8%.
Bagaimana Pengaruhnya Terhadap Harga Kain?
Karena berat kain menyusut setelah proses dyeing, biasanya harga kain dihitung dengan mempertimbangkan toleransi susut tersebut.
Contoh:
Harga kain bruto Rp100.000 / kg
Jika toleransi susut 8%, maka harga netto menjadi Rp108.000 / kg
Penyesuaian ini dilakukan agar harga mencerminkan berat kain yang benar-benar diterima pembeli setelah proses produksi selesai.
Mengapa Buyer Konveksi Perlu Memahami Hal Ini?
Memahami konsep berat bruto dan netto memberikan beberapa keuntungan:
Perhitungan kebutuhan kain lebih akurat
Konveksi dapat memperkirakan kebutuhan bahan dengan lebih tepat.
Menghindari kesalahpahaman dengan supplier
Buyer memahami bahwa penyusutan berat adalah proses normal dalam produksi tekstil.
Mengontrol biaya produksi
Perhitungan HPP kaos menjadi lebih realistis.
Menilai kualitas proses produksi
Jika susut terlalu besar, bisa menjadi indikasi proses dyeing yang kurang stabil.
Kesimpulan
Dalam industri tekstil:
Berat bruto adalah berat kain sebelum proses dyeing.
Berat netto adalah berat kain setelah proses dyeing dan finishing.
Pada kain katun, susut berat merupakan hal yang normal dan biasanya berada di kisaran sekitar 8%, serta bisa mencapai 10% untuk warna putih.
Dengan memahami konsep ini, pelaku usaha konveksi dapat menghitung kebutuhan bahan dengan lebih akurat serta membangun kerja sama yang lebih transparan dengan supplier kain.



Komentar